poltara.com
  • Kategori Berita
    • Agregator Berita
    • Politik Nasional
    • Politik Dunia
  • Analisis
    • Analisis Berita
    • Analisis Pro Kontra
  • Pemilu 2024
    • PILPRES 2024
   Masuk
poltara.com poltara.com
  
  • Pengaturan Akun
  • Masuk
  • Kategori Berita
  • Politik Nasional
  • Politik Dunia
  • Analisis Berita poltara
  • Analisis Pro Kontra poltara
  • Pilpres 2024 poltara

Polemik Ketum PPP Soal Amplop Kiai, Pengaruhi Suara Pemilu 2024?

Penulis: Hessa Abda
Tanggal Terbit: Senin, 29 Agustus 2022
Polemik Ketum PPP Soal Amplop Kiai, Pengaruhi Suara Pemilu 2024?

Sentimen Ketum PPP Suharso Monoarfa Soal Amplop Kiai./Instagram @dpp.ppp

Pernyataan Suharso Monoarfa selaku Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang juga menjabat sebagai Menteri Bappenas perihal amplop kiai saat berpidato dalam acara internal bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuai polemik.

“Demi Allah dan rasulnya terjadi. Saya datang ke kiai dengan beberapa kawan, lalu saya pergi begitu saja. Ya saya minta didoain, kemudian saya jalan. Tak lama kemudian, saya dikirimi pesan WhatsApp, ‘pak Plt tadi ninggalin apa nggak untuk kiai’, saya pikir ninggalin apa, saya nggak merasa tertinggal sesuatu di sana,” ucap Suharso Monoarfa [1].

Atas kejadian tersebut, kelompok Pecinta Peci Nusantara melaporkan Ketum PPP, Suharso Monoarfa ke Bareskrim Polri karena menurut Alvin Mustofa Hasnil Haq, pernyataan tersebut merupakan bentuk penghinaan terhadap pihak tertentu.

"Kami melaporkan Suharso Monoarfa terkait penghinaan yang disampaikan-nya dalam acara antikorupsi di KPK dengan para kader PPP. Kami selaku santri yang tergabung dalam Peci Nusantara merasa tersinggung dan terhina atas pernyataannya," kata Ketua Pecinta Kiai Nusantara Alvin Mustofa Hasnil Haq [2].

Menurut Alvin yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta, menjelaskan bahwa sudah banyak yang melaporkan Suharso Monoarfa kepada pihak kepolisian karena pernyataan amplop kiai tersebut. Ia berharap agar Ketum PPP tidak mengulangi perbuatan tersebut.

"Sudah ada beberapa laporan terkait hal ini ke kepolisian, tapi yang ke Bareskrim baru saya. Harapannya Suharso sebagai publik figur tidak mengulangi kesalahannya yang bisa menyinggung seluruh kiai," kata dia.

Baca Juga Koalisi Indonesia Bersatu akan Adakan Pertemuan, Begini Analisis Beritanya

Suharso Monoarfa Minta Maaf

Setelah pernyataan amplop kiai tersebut menjadi polemik, Suharso Monoarfa telah menyampaikan permohonan maafnya atas apa yang telah terjadi. Dirinya pun merasa bahwa persoalan amplop kiai tersebut hanyalah kesalahpahaman.

"Iya itu kan kesalahpahaman mereka saja," kata Suharso Monoarfa [3]saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa 23 Agustus 2022. Imbas pernyataan tersebut, Majelis Syariah, Majelis Kehormatan, dan Majelis Pertimbangan PPP meminta Suharso Monoarfa mundur. 

Polemik Amplop Kiai Pengaruhi Pemilu 2024?

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam, polemik perihal amplop kiai yang disebabkan oleh pernyataan dari Ketum PPP saat dalam acara bersama KPK, membawa dampak negatif terhadap partai.

"Statement 'amplop kiai' memang akan membuat kesan buruk melekat pada individu Suharso selaku Ketum PPP. Jika dampak negatifnya terus bergulir dan sulit dimitigasi, maka hal itu berpotensi menggerus akar politik PPP yang tersebar di banyak jaringan pesantren lokal," tuturnya

Adapun dampak negatif terhadap partai karena PPP merupakan partai yang mana di dalamnya banyak para kiai yang mendedikasikan perjuangannya untuk partai yang dipimpin oleh Suharso Monoarfa, sehingga riskan jika dikaitkan dengan Pemilu 2024.

Perlu diketahui bahwa pada kontestasi Pemilu 2019, PPP mendapatkan persentase suara sebesar 4,52 persen, sehingga hanya selisih 0,52 persen lebih besar dari ambang batas parlemen atau parliamentary threshold 4 persen.

"Bisa-bisa PPP masuk zona degradasi dan terlempar dari jajaran partai Senayan," ujarnya. Dirinya merasa bahwa PPP harus mempertimbangkan desakan dari Majelis Syariah, Majelis Pertimbangan, dan Majelis Kehormatan partai yang meminta Suharso mundur dari kursi Ketum PPP.

"Namun jika memang benar DPP PPP solid untuk mempertahankan Suharso, maka PPP harus siap dengan segala risiko yang mempertaruhkan nasib dan kelangsungan partainya," ujar Umam.

"Jangan sampai Pemilu 2024 menjadi pemilu perpisahan bagi PPP dari jajaran elite partai Senayan," tutur dosen Universitas Paramadina.

Baca Juga Polemik 'Amplop Kiai', Suharso Monoarfa Didesak Mundur dari PPP

Hasil Analisis Kazee

Diagram Isu yang Sering Dibahas./Kazee Media Monitoring

Pada umumnya, warganet di Twitter menyoroti perihal pernyataan dari Suharso Monoarfa saat dalam acara internal dengan KPK, yang menyinggung soal amplop kiai, yakni sebesar 35 persen. Sebesar 22 persen, netizen menyoroti perihal tuntutan agar Suharso Monoarfa mundur dari ketum PPP.

Sebanyak 17 persen warganet fokus terhadap para pihak yang melaporkan Ketum PPP, Suharso Monoarfa ke pihak kepolisian dan 10 persen netizen menyoroti soal pernyataan tersebut yang mana Ketum PPP tidak bermaksud menyinggung ulama.

*disclaimer: terdapat data yang tidak ditampilkan.

Grafik Pergerakan Data./Kazee Media Monitoring

Pernyataan Suharso Monoarfa soal amplop kiai yang menuai polemik, mencapai puncak datanya pada 25 Agustus 2022. Hal tersebut terjadi karena adanya pihak yang melaporkan Ketum PPP ke polisi dan beberapa petinggi partai yang menyarankan Suharso untuk mundur dari ketum.

Persentase Analsisis Sentimen./Kazee Media Monitoring

Adapun analisis sentimen terkait polemik amplop kiai tersebut menimbulkan sentimen negatif di media sosial dan media pemberitaan sebesar 76 persen, sentimen positif sebesar 13 persen, dan sentimen netral sebesar 11 persen.

Baca Juga PPP Ungkap Tiga Sosok Capres 2024 Dukungan Presiden Jokowi

Sampel Tweet Warganet di Twitter./Kazee Media Monitoring

Netizen dalam menyampaikan pandangan soal polemik amplop kiai pun beragam. Terdapat warganet yang merasa bahwa penceramah tidak masalah mendapatkan amplop, pasalnya para akademisi yang menyampaikan seminar, juga mendapatkan amplop.

Namun terdapat warganet yang menganggap bahwa penggunaan kata amplop untuk kiai, merupakan bahasa yang sangat kurang baik untuk digunakan, khususnya untuk orang Jawa, terlepas dari niat dan tujuan pemberian amplop itu apakah baik atau tidak.

Kata Kunci Sesuai Topik Pemberitaan./Kazee Media Monitoring

Kata kunci yang paling banyak digunakan dalam topik polemik amplop kiai adalah Suharso Monoarfa, kiai, pidatonya, menyinggung, amplop, ketum, berintegritas, desakan, dan antikorupsi.

Baca Juga Gerindra, Golkar, PPP Akan Disambangi PDIP dalam Safari Politik

Diagram Tokoh Terpopuler. Kazee Media Monitoring

  1. Tokoh terpopuler dalam topik ini adalah.
  2. Suharso Monoarfa (Ketum PPP) sebesar 67 persen.
  3. Zarkasih Nur (Ketua Majelis Kehormatan PPP) sebesar 14 persen.
  4. Jokowi (Presiden RI) sebesar 4 persen.
  5. Arsul Sani (Wakil Ketua Umum PPP) sebesar 3 persen.
  6. Arwani Thomafi (Politisi PPP) sebesar 2 persen.

*disclaimer: terdapat data yang tidak ditampilkan.

Diagram Organisasi Terpopuler./Kazee Media Monitoring

Organisasi terpopuler dalam topik ini adalah sebagai berikut.

  1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebesar 30 persen.
  2. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebesar 19 persen.
  3. Polri sebesar 18 persen.
  4. Bappenas sebesar 3 persen.
  5. PWNU DKI Jakarta sebesar 3 persen.

*disclaimer: terdapat data yang tidak ditampilkan.

Kesimpulan 

Pernyataan Suharso Monoarfa selaku Ketum PPP perihal amplop kiai yang menuai kontroversi, menurut pengamat Indostrategic, bisa berdampak pada suara partai PPP pada kontestasi Pemilu 2024. Adapun dirinya menyarankan agar saran dari beberapa majelis atau petinggi partai, bisa dipertimbangkan.

Sorotan warganet di media sosial pun fokus terhadap pernyataan amplop kiai yang disampaikan oleh Suharso Monoarfa dalam acara internal bersama KPK, yakni sebesar 35 persen. Polemik amplop kiai juga berdampak pada sentimen negatif yang mencapai 76 persen.

Tak hanya itu, terdapat warganet yang mempertanyakan mengapa memberi amplop untuk penceramah atau kiai, dipermasalahkan. Padahal menurut netizen dalam sampel Tweet tersebut, para akademisi yang memberikan ceramah pun diberi amplop oleh panitia penyelenggara.


PPP Suharso Monoarfa Arsul Sani amplop kiai PWNU KPK

Bagikan:

 Berita Terbaru

  PRO KONTRA: Kritik Rocky Gerung untuk Jokowi
Senin, 07 Agustus 2023
  Prabowo Subianto Didukung PKB Capres 2024: Tambahan Kekuatan
Senin, 31 Juli 2023
  Pilpres 2024: Keberlanjutan Ganjar, Prabowo atau Perubahan Anies?
Senin, 24 Juli 2023
  PRO KONTRA: RUU Kesehatan Disahkan?
Senin, 17 Juli 2023
  Prabowo Subianto Temui Cak Imin, Soal Pilpres 2024?
Senin, 10 Juli 2023
  Dito Ariotedjo Diperiksa Kejagung Sebagai Saksi Kasus Korupsi di Kominfo
Selasa, 04 Juli 2023
  PRO KONTRA: SBY buat Buku Tentang Pilpres 2024 dan Cawe-cawe?
Jumat, 30 Juni 2023
  PRO KONTRA: Wacana Kaesang Maju jadi Cawalkot Depok
Rabu, 28 Juni 2023
  Ada Upaya Anies Baswedan ‘Dijegal’ KPK Jelang Pilpres 2024?
Senin, 26 Juni 2023
Anda masih memiliki kuota 1 kali perbulan untuk mengakses Analisis Berita
Bergabung dengan Poltara Pro dan dapatkan akses tak terbatas.


Berlangganan Sekarang
Poltara Indonesia
Kworks Indonesia - Wisma Korindo Lantai 6 - Jalan MT. Haryono Kav. 62 Pancoran - Jakarta Selatan. 12780
(022) 2010606
insight@poltara.com

Informasi
Pedoman Media
Privasi
Syarat dan Ketentuan
Hubungi Kami
Jaringan
Hutara.id
Finatara.com

poltara.com poltara.com

© Poltara Indonesia 2022